Prestasi Tunas Muda Darel Azhar di PELATUK La Tansa Rangkasbitung

keberhasilan tunas muda Darel Azhar

DAREL AZHAR– Gerakan pramuka adalah sebuah gerakan pendidikan bagi pemuda pemudi yang diselenggarakan dalam bentuk permainan di alam terbuka yang menyenangkan guna menumbuhkan tunas bangsa dan menjadi generasi yang mampu membangun dan membina juga sebagai penerus generasi muda berkarakter.

Pramuka menjunjung tinggi tujuannya, yaitu menanamkan dan menumbuhkan budi pekerti luhur dengan cara memantapkan mental, moral, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman melalui berbagai kegiatan.

Tidak sampai disitu saja, gerakan pramuka juga merupakan wadah pemersatu umat, ajang silaturahim bagi generasi generasi muda.

proses tidak pernah mengkhianati hasil
selalu bersyukur

Untuk pertama kalinya La Tansa menyelenggarakan kegiatan Perkemahan La Tansa Tajuk Ukhuwah yang kemudian disingkat menjadi PELATUK. Ahad, 25 Februari 2018 Kegiatan ini secara resmi dibuka dan berlangsung selama 3 hari terhitung dari pembukaan kegiatan tersebut hingga penutupan pada hari Selasa, 27 Februari 2018.

Pelatuk 1 kali ini bertempatkan di bumi perkemahan La Tansa 2, Lebak, dan diikuti oleh 82 kontingen antara lain 20 kontingen tingkat SD, 24 kontingen tingkat SMP dan 28 kontingen tingkat SMA. Termasuk juga didalamnya kontingen Darel Azhar yg mengutus 2 regu penggalang dan 1 penegak.

Adapun perolehan juara juara adalah sebagai berikut:

Tingkat SMP Sederajat PA:

  • Juara 1 oleh ponpes Kun Karima (La Tansa 3)
  • Juara 2 oleh Ponpes Al Mizan
  • Juara 3 oleh Ponpes Darel Azhar

 Tingkat SMP Sederajat PI:

  • Juara 1 oleh MTs Al Hidayah wanti
  • Juara 2 oleh Ponpes Darel Azhar
  • Juara 3 oleh MTs Pembangunan

Tingkat SMA Sederajat PA:

  • Juara 1 oleh Ponpes Al Bayan
  • Juara 2 oleh ponpes Darel Azhar
  • Juara 3 MA Al Hidayah wantisari

Dan Darel Azhar dinyatakan sebagai juara umum tingkat penggalang

 

(Sekpim/Afridhasani)

Penggunaan Auditorium Perdana Pondok Pesantren Modern Darel Azhar.

2020 merupakan tahun yang akan mengukir lebih banyak sejarah mengesankan bagi pondok pesantren Darel Azhar, Rangkasbitung. Dalam memperingati usia pondok yang genap 25 tahun di tahun 2020 ini, berbagai rentetan acara dalam rangka memperingatinyapun telah direncanakan dengan sebaik mungkin. Tak hanya itu, pembangunan Auditorium diatas tanah wakaf seluas 1900 m2 pun menjadi salah satu icon 25 tahun pondok pesantren modern Darel Azhar. Gedung tersebut dibangun dengan tujuan bisa digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan dengan kapasitas mampu menampung 2500 orang.

Kamis, 16 Januari 2020 merupakan pertamakalinya Auditorium Darel Azhar digunakan. Laporan pertanggungjawaban pengurus osda dan gugus depan gerakan pramuka periode 2019-2020 perdana diselenggarakan di Auditorium dengan suasana baru memiliki kesan yang lebih dari sebelumnya.

Meski pembangunan auditorium ini belum sepenuhnya rampung atau bisa dikatakan 70% pembangunan menuju finishing, namun bapak pimpinan pondok pesantren Darel Azhar memang sengaja menyarankan agar Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kali ini dibacakan di auditorium baru. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur atas pembangunan gedung serba guna yang berjalan dengan baik hingga saat ini. Selain itu beliau juga memang sengaja ingin memberikan suasana baru bagi seluruh pengurus baru maupun lama dalam pembacaan laporan pertanggungjawaban yang akan disambung dengan pergantian pengurus osda dan gugus depan pramuka.

Kejuaraan Open Pemula Renang PORSENI Darel Azhar

2 tahun lalu anugerah Allah SWT begitu nyata dan cepat. Pada hari yang bersamaan KH. Ikhwan Hadiyyin, MM menyatakan ikrar wakaf Ponpes Modern Darel Azhar seluas 2.4 Ha dihadapan para nadzir, KUA dan jajaran guru saat itu pula Darel Azhar membeli Kolam renang tirta yang kemudian berubah nama menjadi DAZ sekitar 400m dari pesantren.

Milad ke-25 tahun PM Darel azhar ini mengadakan Pekan Olahraga dan Seni termasuk didalamnya kejuaraan open pemula renang bekerjasama dengan Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Lebak. Sungguh diluar ekspektasi panitia dan penanggung jawab kolam renang ternyata perlombaan kali pertama ini diikuti oleh 100 lebih atlit Lebak dan beberapa kota lainnya di Banten.

Terdapat 5 lintasan dalam satu kolam yang telah disediakan oleh panitia pelaksana Kejuaraan Open Renang Pelajar Tingkat Pemula dan akan digunakan oleh atlit. Dalam kompetisi open kali ini tercatat 80 atlit renang yang berasal dari kabupaten Lebak, Serang, dan Bogor turut memperebutkan piala bupati Lebak dalam kegiatan PORSENI Darel Azhar. Dari sekian banyak peserta yang berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut masing masing dikelompokkan berdasarkan pada kelompok umur (KU) dengan 5 gaya perkelompoknya. Meliputi gaya kupu-kupu, gaya punggung, gaya dada, gaya bebas dan gaya ganti.

Rifai Arif sekaligus ketua milad 25 tahun darel azhar membuka lomba renang ini merasa bersyukur dan berterima kasih kepada jajaran PRSI yang telah ikut membantu acara ini sebagai ajang memupuk generasi bangsa. Tepat pukul 09:00 WIB lomba ini dibuka dengan seraya bersyukur atas eksistensi darel azhar yang ke-25 tahun.

Alhamdulillah seru bu Ani selaku ketua panitia porseni ketika pengalungan medali dan hadiah yang disematkan langsung oleh Bapak Budi selaku koordinator kejuaraan renang ini sekaligus menandakan berakhirnya rentetan 9 pertandingan porseni 2019 pondok pesantren Darel Azhar, Rangkasbitung.

Darel Azhar Swimming Pool

 

Stadium General bertemakan Peradaban Tulisan Wahyu Ilahi dalam Teks Rasm dan Ragam Bentuk Tulisan Arab

DAREL AZHAR– Indah, elok, bahkan menakjubkan. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat, yang terlintas dalam benak setiap jiwa yang memandang keindahan kalam Ilahi yang tertuang dalam bentuk tulisan dan dipadukan dengan seni yang kita kenal dengan ” Kaligrafi “.

Dari seni kaligrafi, yang kita nikmati hanya sekedar keselarasan dan keindahan tulisannya saja, namun pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk mengetahui asal-usul lahirnya seni tersebut? Atau bahkan mungkin mengenai kaidah yang ada di dalamnya?

Pada malam ini, sabtu 2 Maret 2019. Merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi seluruh mahasiswa STITDA . Karena diberikan kesempatan untuk belajar dan mengetahui lebih dalam mengenai seni tersebut.
Acara tersebut diberi tema ” Peradaban Tulisan Wahyu Ilahi dalam Teks Rasm dan Ragam Bentuk Tulisan Arab ” yang disampaikan oleh : Ust. Alim Gema Alamsyah, Lc.MA.
Beliau adalah seorang kaligrafer/khotot yang mempunyai banyak pengalaman dalam bidang seni kaligrafi. Beberapa perlombaan tingkat Internasional pernah beliau ikuti.
Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan tentang alat-alat yang diperlukan untuk menulis sebuah kaligrafi dan berbagai macam jenis Khot dalam kaidah kaligrafi.

Adapun alat-alat yang paling utama yang digunakan untuk menulis kaligrafi adalah :
1. Pena yang sering disebut dengan “handam”
2. Kertas (Warak)
Kertas yang digunakan adalah kertas muqohhar, yaitu kertas yang mempunyai permukaan licin. Orang-orang pada zaman dahulu menggunakan putih telur untuk membuat permukaan kertas menjadi licin.
3. Tinta ( Dawat)
Dawat tersebut terdiri dari mahbaroh ( tempat tinta) kemudian diisi oleh liqoh atau benang sutra yang berfungsi untuk menahan tinta agar tidak menggenang dalam tempat tersebut, kemudian barulah diisi dengan tinta.

Adapun ragam khat dalam seni kaligrafi, diantaranya yaitu :
1. Khat Khoufi
Merupakan khat yang pertama kali muncul yang berasal dari Arab dan cenderung bentuknya sangat kaku.
2. Khat Tsulus
Ciri utama dari khat ini adalah bentuk tulisannya sudah agak lentur dan pada huruf-huruf tertentu terdapat tarwis, misalnya pada huruf Alif,Lam dan sebagainya.
3. Khat Naskhi
Ciri utama khat ini adalah ukuran tulisannya sudah agak kecil dibandingkan dengan Khoufi dan Tsulus. Dan dijadikan sebagai tulisan mushaf Al-Qur’an seperti yang kita punyai saat ini.
4.Khat Farisi
Merupakan khat yang berasal dari Persia.
5. Khat Diwani
Berasal dari Turki, yang dipakai di perkantoran. Seperti untuk menulis surat dan lain sebagainya. Setelah khat Diwani muncul lah khat Diwani Jali yang berfungsi untuk menulis sesuatu yang bersifat rahasia karena karena sifat dari khat tersebut adalah sulit dibaca dan diubah.
7. Khat Riq’ah
Bentuk tulisannya paling kecil dibandingkan dengan khat yang lain dan biasanya digunakan untuk metode menulis arab yang cepat.
Perlu diketahui bahwa kaligrafi sanadnya tidak sampai pada Rasulullah, berbeda dengan Al-Qur’an yang sanadnya sampai pada Rasulullah. Karena Rasul tidak dapat menulis, tetapi kaligrafi sanadnya sampai pada Ali bin Abi Thalib, R.A. Kaligrafi merupakan warisan budaya Islam yang harus kita jaga kelestarian nya.
Jangan sampai warisan tersebut punah, karena kecanggihan teknologi yang semakin berkembang pesat . Yang membuat kita malas untuk menulis nya apalagi untuk mempelajari nya.

Sekpim #UM