The Miracle Of KMI

Pada pelajaran ushul fiqh kelas 3 ada judul الميسور لا يسقط المعسور atau memiliki pengertiannya adalah *sesuatu yang mudah tidak meniadakan perkara yang susah lainnya*. Seperti sakit luka pada tangan tidak meniadakan wajib membasuh anggota tubuh lain ( muka, kaki, rambut dsb ). Judul kaedah / teori fiqih ini tidak akan mudah diterangkan jika tidak ada judul sebelumnya dalam 1 buku sistematis ( ushul fiqih ) yaitu ; ما لا يدرك كلّهُ لا يترك كلّه . Kecocokan dan kesinambungan dari satu judul ke judul berikutnya merupakan sebuah masterpiece sebuah buku ilmiah kemudian diajarkan dengan methode pengajaran yang tepat ( baca amaliyah tadris ) mampu menghasilkan pengajaran yang mencapai tujuan pendidikan sehingga terciptanya insan alim / faqih / muhaddist / mufassir dari pengajaran.

Lihatlah kitab *Durusullugoh* kelas 1 bagi pemula yang belum mampu berbahasa arab. Disini KH. Imam Zarkasyi memadukan materi pengajaran bahasa arab dengan methode *amaliyah tadris* tanpa terjemah atau menggunakan bahasa indonesia/ibu namun santri mampu mendalami kitab tersebut bahkan menggunakan bahasa arab dalam kesehariannya.

Apakah kitab durusullugoh itu memiliki karakter misteri? Jawabnya bukan misteri namun karakter kurikulum yang tepat dan matang. Perhatikan rentetan judulnya dimulai ism-ism kemudian perbedaan ism mudzakar dan muannats ( قلم – مدرسة ) setelah itu meningkat kepada ism-ism isyaroh yang bersifat mudzakar dan muannats juga ( هذا – هذه / ذالك – تلك ) dan selanjutnya kepada dhamir ( هو – هي – أنا – أنت dst ). Beliau memulai dengan ism ism seperti methode pengajaran dalam Alquran saat Nabi Adam dan Malaikat belajar :
(وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ)
[Surat Al-Baqarah 31]

Memulai dengan asma ( ism-ism ) bukan dengan fi’il ( kata kerja ).

Buku dan kurikulum mana yang lebih dahulu saat suatu lembaga pendidikan mulai melaksanakan proses pendidikan? Persoalan ini bagaikan telur dan ayam mana yang lebih dahulu. Namun KH. Imam Zarkasyi telah meramu itu dengan sedemikian lengkap dan komprehensif sehingga terciptanya KMI.

Anak kelas 5 KMI mempelajari kitab musthalahul hadits yang jika kita telisik pada kitabnya akan diketahui bahwa itu untuk perkuliahan syariah di fakultas hadits namun kenapa diberikan kepada santri ( yang belum kuliah ) ? Hasil penelusuran kami itu karena kelas 5 pasti akan menjadi pengurus baik dirayon, organisasi atau minimal pengurus konsulat. Maka harus diberikan *kemampuan jarh wa takdil* sebagai bekal seorang pengurus.

Fiqih wadhih merupakan kumpulan konsesus hukum fiqih yang simple seperti namanya. Santri KMI tidak membaca / mempelajari *taqrib dsb* begitu juga dalam materi aqidah dan ushul. Kecuali mereka sudah mencapai kematangan ( baca saat menjadi pengurus / dewasa ) baru membuka tabir luasnya pandangan ulama tentang produk fiqih dengan menggunakan kitab *Bidayatul Mujtahid*.

Tidak berhenti sampai disitu karena kita harus melirik hapalan tentang *Panca Jiwa* yang berbunyi *wawasan luas* yang dilanjutkan *kebebasan*. Yaitu bebas memilih tujuan hidup, bebas memilih madzhab fiqih, dan bebas-bebas lainnya setelah santri *menguasai* materi dari kelas 1 hingga 4 yang berarti sudah mempunyai *wawasan luas* barulah ia *bebas* memilih dengan wawasannya. Disini saat jelas kecocokan antara kitab yang diajar dengan methodenya bahkan nilai-nilai / filsafat pendidikan selaras dalam praktek kehidupan santri. Karena kurikulum bukan sekumpulan kertas namun seluruh *apa yang kau dengar, apa yang kau lihat, apa yang kau rasakan* itulah kurikulum.

KMI ku… Ibu Kandungku… our boarding school

Salam STITDA.

#A. Rifa’i Arif,  M. Pd. I