Ujian Lisan Asah Mental dan Intelektual

Apel pembukaan ujian lisan

Darel Azhar- Ujian Lisan selalu dilaksanakan menjelang ujian tulis bagi kebanyakan pesantren berbasis kurikulum Gontor atau pondok modern. Dengan rata-rata 3 kategori ujian lisan yaitu; Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Dan Alquran-Praktikum Ibadah.

Tradisi ini sudah menjadi darah daging dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren modern sehingga menjadi perhatian khusus dalam implementasinya sebagaimana instrumen pendidikan lainya bahwa ujian lisan termasuk assasement resmi dan masuk kedalam raport santri.

Dalam prakteknya hanya perguruan tinggi yang melakukan assasement ini dan tidak untuk sekolah menengah pertama ataupun atas. Dikarenakan berat juga banyaknya materi menjadikan instrumen pendidikan ini keluar dari parameter pendidik. Ujian komprehensif hanya 1 kali dilaksanakan sebagai syarat menulis karya ilmiah atau skripsi hal ini berbanding terbalik dengan kurikulum KMI yang diadakan 2 kali dalam setahun atau setiap semester.

Beratnya komprehensif bagi para mahasiswa karena seluruh materi kuliah dasar, khusus, dan keahlian menjadi satupadu. Coba perhatikan kategori ujian bahasa arab yang terdiri dari insya, muthalaah, nahwu, sorof, mahfudzot, mufrodat, uslub, balagoh dan imla dipertanyakan dalam waktu tak lebih dari 15-20 menit persantri.

Nilai 4 adalah nilai minimum yang diberikan bagi santri yang tak mampu sama sekali menjawab pertanyaan ujian lisan. Loh kenapa tidak mampu menjawab malah mendapat nilai? Hal ini lah yang menjadi dasar ujian lisan diterapkan dipesantren-pesantren modern. Kesiapan mental adalah modal utama dalam ujian walaupun dia pintar namun menghadapi 4 penguji sendirian dalam ruangan adalah ujian itu sendiri. Kemampuan verbal lebih dituntut dalam assasement ini dengan beraneka ragamnya secara psikologis dan periodik massa. Banyaknya materi ujian dalam 1 kategori merupakan stimulus kepribadian peserta didik untuk menghadapi tantangan ujian tulis dan mampu mengukur animo mereka dalam proses ujian secara langsung.

Bukan menakuti bahkan menghakimi santri ketika memasuki ujian lisan atau memberikan pertanyaan kemudian tidak memperhatikan jawabanya peserta ujian hal-hal tersebut selalu diulang-ulang dalam taujihat wal irsyadaat ( pengarahan ujian bagi guru ) oleh Bapak Kyai/ Direktur KMI sehingga menjadikan ujian lisan ini layak dan perlu sebagai assasement proses pendidikan.