Monthly Archives: Februari 2019

Wakaf dan Implementasinya di Ponpes Modern Darel Azhar Rangkasbitung

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

(إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ)
[Surat Ali ‘Imran 96]

Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah ( Baitullah) yang di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam ( Ali Imran 96).

Wakaf merupakan ajaran keagamaan yang sangat akrab di telinga kaum muslimin. Sejarah awal mulanya wakaf pun setua umur manusia terutama jika merujuk kepada ayat di atas yaitu Ka’bah. Ada yang mengatakan sejak Nabi Adam AS dan adapula yang memastikan sejak bapaknya para nabi yaitu Nabi Ibrahim AS yang merenovasi bangunan Ka’bah.

Islam ialah agama yang dibawa para nabi sejak nabi Adam as, yang diperbaharui syariatnya oleh Nabi Muhammad SAW.
Sejak awal sudah mengimplementasikan ajaran-ajaran keagamaan para nabi sebelumnya.
Wakaf keagamaan pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ialah membangun Masjid Quba kemudian selang 6 bulan Rasul pun mewakafkan pembangunan masjid Nabawi di Madinah.
Dari pembelian tanah yang dimiliki anak yatim. Dana pembelian tanah tersebut murni dari uang pribadi Rasulullah. Itulah awal mula wakaf keagamaan dalam yurespudensi Islam.

Setelah Islam berkembang kian pesat di kota Madinah dan syariat-syariat tegak lurus dilaksanakan oleh kaum muslimin. Wakaf tetap menjadi primadona di kalangan para sahabat nabi. Diriwayatkan oleh putranya sendiri bahwa Umar bin Khattab sangat bahagia mendapatkan bagian tanah yang subur dan penuh dengan pepohonan yang berbuah lebat. Lantas Umar meminta saran kepada baginda Nabi tentang tanah tersebut.

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ , فَأَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا, فَقَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْه ُ قَالَ : إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا, وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ : فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ, ]غَيْرَ] أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا, وَلَا يُورَثُ , وَلَا يُوهَبُ , فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي اَلْفُقَرَاءِ, وَفِي اَلْقُرْبَى, وَفِي اَلرِّقَابِ, وَفِي سَبِيلِ اَللَّهِ, وَابْنِ اَلسَّبِيلِ, وَالضَّيْفِ, لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ , وَيُطْعِمَ صَدِيقاً ) غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ, لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ, وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ )

Ibnu Umar berkata: Umar Radliyallaahu ‘anhu memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta petunjuk dalam mengurusnya. Ia berkata: Wahai Rasulullah, aku memperoleh sebidang tanah di Khaibar, yang menurutku, aku belum pernah memperoleh tanah yang lebih baik daripadanya. Beliau bersabda: “Jika engkau mau ? wakafkanlah pohonnya dan sedekahkanlah hasil (buah)nya.” Ibnu Umar berkata: Lalu Umar mewakafkannya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, diwariskan, dan diberikan. Hasilnya disedekahkan kepada kaum fakir, kaum kerabat, para hamba sahaya, orang yang berada di jalan Allah, musafir yang kehabisan bekal, dan tamu. Pengelolanya boleh memakannya dengan sepantasnya dan memberi makan sahabat yang tidak berharta. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Umar menyedekahkan pohonnya dengan syarat tidak boleh dijual dan dihadiahkan, tetapi disedekahkan hasilnya.

Adanya perbedaan pendapat antara baginda Nabi Muhammad SAW atau sahabat beliau Umar bin Khattab yang melakukan wakaf model baru tersebut. Yaitu Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah pernah mewakafkan ketujuh kebun kurma di Madinah; diantaranya ialah kebun A’raf Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebun lainnya. Namun yang jelas adalah wakaf di kala itu sudah bermetamorfosis menjadi wakaf derma ( filantropis ) yaitu : tidak hanya berupa tanah yang diperuntukan rumah ibadah atau masjid. Melainkan mengambil alih atau menahan kepemilikannya untuk tidak dijual, diberikan, diwariskan dan memberikan manfaatnya bagi faqir miskin, dhuafa, ibnu sabil, yatim dan seterusnya.

Pada abad kedua hijriah umat Islam mulai mengenal wakaf tunai atau wakaf uang. Imam az Zuhri ( 124 H wafat ) ulama terkemuka waktu itu memperbolehkan wakaf dirham dan dinar untuk kepentingan pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan Islam.

Darel Azhar sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang berdiri sejak 5 Maret 1995 dibangun di atas tanah wakaf keluarga seluas 2000 m2 yang kemudian ketika memasuki usianya ke-23 tahun diikrarkan wakafnya seluas 2, 4 Ha ( 24 000 m2) secara de jure dan de facto oleh Pimpinan Pesantren Dr . KH. Ikhwan Hadiyyin, MM melalui KUA Kab Lebak sebagai legislator hukumnya. Tercatat 10 Ha lagi yang akan diwakafkan untuk kepentingan pendidikan Islam. Adapun tanah yang 2, 4 Ha sebagian besarnya sudah dipenuhi gedung-gedung bertingkat.

Ponpes Modern Darel Azhar Rangkasbitung berasaskan sintesa universita Al Azhar Kairo Mesir yang memiliki jutaan hektar wakaf dan mengembangkannya menjadi pondasi perekonomian. Al Azhar Kairo mampu membiayai seluruh operasional pendidikan ; puluhan ribu beasiswa untuk para mahasiswa dalam dan luar negeri, gaji dan insentif para dosen, bahkan membantu kebijakan fiskal negara Mesir. Karena itulah PM Darel Azhar Rangkasbitung yakin bahwa eksistensi pendidikan di pesantren ini akan terus berjalan walaupun estafeta kepemimpinan silih tumbuh dan berganti hingga ribuan tahun akan kekal dan abadi.

Tak hanya berhenti pada wakaf keagamaan, Darel Azhar Rangkasbitung juga membangun gedung-gedung dan unit usaha ekonomi sebagai implementasi panca jangkanya yaitu khizanatullah serta pembangunannya. Pada tahun 2019 ini Darel Azhar membangun Gedung Serba Guna di atas tanah wakaf seluas 1900 m2 yang mampu menampung 2500 orang untuk pertemuan dan asrama santri. Gedung Serba Guna ini juga akan digunakan sarana olah raga yang modern bagi siswa dan mahasiswa di sekitar komplek pendidikan. Hal ini sebagai wujud dari rencana pimpinan pondok dan sekaligus pimpinan Forum Kepala Sekolah dan Perguruan Tinggi ( FKS-PT) Komplek Pendidikan . Pembangunan ini dilakukan oleh pimpinan pesantren dan para gurunya sebagai rasa tanggung jawab menjalankan amanah perjuangan dan wakaf untuk umat Islam di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Marilah kita sebagai muslim berlomba-lomba mendermakan ( filantropis ) sebagian harta untuk wakaf umat Islam khususnya wakaf tunai demi pembangunan GSG Darel Azhar. Sebagaimana Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kesayangannya “Bairaha” setelah Umar bin Khattab berwakaf . Atau seperti Abu Bakar Asshidiq yang mewakafkan sebidang tanahnya di Mekah, Utsman Bin Affan yang membeli sumur dari yahudi yang kemudian diwakafkan hingga sekarang yang kita masih merasakan manfaatnya. Juga Mu’adz bin Jabbal yang mewakafkan rumahnya yang terkenal dengan “Dar al Anshor”. Itu semua sebagai bentuk kecintaan beribadah kepada Allah SWT sebagaimana tertulis dalam surat Ali ‘Imran ayat 92 :

(لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ)

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.

Sekretariat DA.