Category Archives: Berita Pondok

Stadium General bertemakan Peradaban Tulisan Wahyu Ilahi dalam Teks Rasm dan Ragam Bentuk Tulisan Arab

DAREL AZHAR– Indah, elok, bahkan menakjubkan. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat, yang terlintas dalam benak setiap jiwa yang memandang keindahan kalam Ilahi yang tertuang dalam bentuk tulisan dan dipadukan dengan seni yang kita kenal dengan ” Kaligrafi “.

Dari seni kaligrafi, yang kita nikmati hanya sekedar keselarasan dan keindahan tulisannya saja, namun pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk mengetahui asal-usul lahirnya seni tersebut? Atau bahkan mungkin mengenai kaidah yang ada di dalamnya?

Pada malam ini, sabtu 2 Maret 2019. Merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi seluruh mahasiswa STITDA . Karena diberikan kesempatan untuk belajar dan mengetahui lebih dalam mengenai seni tersebut.
Acara tersebut diberi tema ” Peradaban Tulisan Wahyu Ilahi dalam Teks Rasm dan Ragam Bentuk Tulisan Arab ” yang disampaikan oleh : Ust. Alim Gema Alamsyah, Lc.MA.
Beliau adalah seorang kaligrafer/khotot yang mempunyai banyak pengalaman dalam bidang seni kaligrafi. Beberapa perlombaan tingkat Internasional pernah beliau ikuti.
Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan tentang alat-alat yang diperlukan untuk menulis sebuah kaligrafi dan berbagai macam jenis Khot dalam kaidah kaligrafi.

Adapun alat-alat yang paling utama yang digunakan untuk menulis kaligrafi adalah :
1. Pena yang sering disebut dengan “handam”
2. Kertas (Warak)
Kertas yang digunakan adalah kertas muqohhar, yaitu kertas yang mempunyai permukaan licin. Orang-orang pada zaman dahulu menggunakan putih telur untuk membuat permukaan kertas menjadi licin.
3. Tinta ( Dawat)
Dawat tersebut terdiri dari mahbaroh ( tempat tinta) kemudian diisi oleh liqoh atau benang sutra yang berfungsi untuk menahan tinta agar tidak menggenang dalam tempat tersebut, kemudian barulah diisi dengan tinta.

Adapun ragam khat dalam seni kaligrafi, diantaranya yaitu :
1. Khat Khoufi
Merupakan khat yang pertama kali muncul yang berasal dari Arab dan cenderung bentuknya sangat kaku.
2. Khat Tsulus
Ciri utama dari khat ini adalah bentuk tulisannya sudah agak lentur dan pada huruf-huruf tertentu terdapat tarwis, misalnya pada huruf Alif,Lam dan sebagainya.
3. Khat Naskhi
Ciri utama khat ini adalah ukuran tulisannya sudah agak kecil dibandingkan dengan Khoufi dan Tsulus. Dan dijadikan sebagai tulisan mushaf Al-Qur’an seperti yang kita punyai saat ini.
4.Khat Farisi
Merupakan khat yang berasal dari Persia.
5. Khat Diwani
Berasal dari Turki, yang dipakai di perkantoran. Seperti untuk menulis surat dan lain sebagainya. Setelah khat Diwani muncul lah khat Diwani Jali yang berfungsi untuk menulis sesuatu yang bersifat rahasia karena karena sifat dari khat tersebut adalah sulit dibaca dan diubah.
7. Khat Riq’ah
Bentuk tulisannya paling kecil dibandingkan dengan khat yang lain dan biasanya digunakan untuk metode menulis arab yang cepat.
Perlu diketahui bahwa kaligrafi sanadnya tidak sampai pada Rasulullah, berbeda dengan Al-Qur’an yang sanadnya sampai pada Rasulullah. Karena Rasul tidak dapat menulis, tetapi kaligrafi sanadnya sampai pada Ali bin Abi Thalib, R.A. Kaligrafi merupakan warisan budaya Islam yang harus kita jaga kelestarian nya.
Jangan sampai warisan tersebut punah, karena kecanggihan teknologi yang semakin berkembang pesat . Yang membuat kita malas untuk menulis nya apalagi untuk mempelajari nya.

Sekpim #UM

Administrasi santri pasca liburan

Darel Azhar- Darel azhar merupakan salah satu Pondok Pesantren Modern yang menggunakan sistem self berdruifing system yang artinya sama-sama membayar sama-sama memakai. Maka uang yang di bayarkan kembali nya bukan untuk keluarga pondok melainkan untuk kepetingan pondok itu sendiri, adapun jumlah administrasi yang harus di bayar adalah sebesar Rp.965.000,00 dengan rincian :
• Iuran bulanan : Rp.290.000,00
• Daftar ulang : Rp. 675.000,00
Santri diharapkan agar bisa melunasi administrasi ketika datang ke Pondok setelah habisnya waktu libur mereka. Iuran santri tersebut akan digunakan untuk kebutuhan nya di pondok seperti untuk makan, air, dan kepentingan lainnya.
Adapun untuk kepentingan yang lain seperti kebutuhan santri, pondok juga telah menyediakan kebutuhan-kebutuhan santri di UKG (Unit Koperasi Guru) yang menyediakan banyak kebutuhan santri, mulai dari makanan hingga peralatan mandi dan sebagai nya. Dengan harapan agar mempermudah santri untuk membeli kebutuhan mereka.

Wakaf dan Implementasinya di Ponpes Modern Darel Azhar Rangkasbitung

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

(إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ)
[Surat Ali ‘Imran 96]

Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah ( Baitullah) yang di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam ( Ali Imran 96).

Wakaf merupakan ajaran keagamaan yang sangat akrab di telinga kaum muslimin. Sejarah awal mulanya wakaf pun setua umur manusia terutama jika merujuk kepada ayat di atas yaitu Ka’bah. Ada yang mengatakan sejak Nabi Adam AS dan adapula yang memastikan sejak bapaknya para nabi yaitu Nabi Ibrahim AS yang merenovasi bangunan Ka’bah.

Islam ialah agama yang dibawa para nabi sejak nabi Adam as, yang diperbaharui syariatnya oleh Nabi Muhammad SAW.
Sejak awal sudah mengimplementasikan ajaran-ajaran keagamaan para nabi sebelumnya.
Wakaf keagamaan pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ialah membangun Masjid Quba kemudian selang 6 bulan Rasul pun mewakafkan pembangunan masjid Nabawi di Madinah.
Dari pembelian tanah yang dimiliki anak yatim. Dana pembelian tanah tersebut murni dari uang pribadi Rasulullah. Itulah awal mula wakaf keagamaan dalam yurespudensi Islam.

Setelah Islam berkembang kian pesat di kota Madinah dan syariat-syariat tegak lurus dilaksanakan oleh kaum muslimin. Wakaf tetap menjadi primadona di kalangan para sahabat nabi. Diriwayatkan oleh putranya sendiri bahwa Umar bin Khattab sangat bahagia mendapatkan bagian tanah yang subur dan penuh dengan pepohonan yang berbuah lebat. Lantas Umar meminta saran kepada baginda Nabi tentang tanah tersebut.

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ , فَأَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا, فَقَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْه ُ قَالَ : إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا, وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ : فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ, ]غَيْرَ] أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا, وَلَا يُورَثُ , وَلَا يُوهَبُ , فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي اَلْفُقَرَاءِ, وَفِي اَلْقُرْبَى, وَفِي اَلرِّقَابِ, وَفِي سَبِيلِ اَللَّهِ, وَابْنِ اَلسَّبِيلِ, وَالضَّيْفِ, لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ , وَيُطْعِمَ صَدِيقاً ) غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ, لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ, وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ )

Ibnu Umar berkata: Umar Radliyallaahu ‘anhu memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta petunjuk dalam mengurusnya. Ia berkata: Wahai Rasulullah, aku memperoleh sebidang tanah di Khaibar, yang menurutku, aku belum pernah memperoleh tanah yang lebih baik daripadanya. Beliau bersabda: “Jika engkau mau ? wakafkanlah pohonnya dan sedekahkanlah hasil (buah)nya.” Ibnu Umar berkata: Lalu Umar mewakafkannya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, diwariskan, dan diberikan. Hasilnya disedekahkan kepada kaum fakir, kaum kerabat, para hamba sahaya, orang yang berada di jalan Allah, musafir yang kehabisan bekal, dan tamu. Pengelolanya boleh memakannya dengan sepantasnya dan memberi makan sahabat yang tidak berharta. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Umar menyedekahkan pohonnya dengan syarat tidak boleh dijual dan dihadiahkan, tetapi disedekahkan hasilnya.

Adanya perbedaan pendapat antara baginda Nabi Muhammad SAW atau sahabat beliau Umar bin Khattab yang melakukan wakaf model baru tersebut. Yaitu Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah pernah mewakafkan ketujuh kebun kurma di Madinah; diantaranya ialah kebun A’raf Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebun lainnya. Namun yang jelas adalah wakaf di kala itu sudah bermetamorfosis menjadi wakaf derma ( filantropis ) yaitu : tidak hanya berupa tanah yang diperuntukan rumah ibadah atau masjid. Melainkan mengambil alih atau menahan kepemilikannya untuk tidak dijual, diberikan, diwariskan dan memberikan manfaatnya bagi faqir miskin, dhuafa, ibnu sabil, yatim dan seterusnya.

Pada abad kedua hijriah umat Islam mulai mengenal wakaf tunai atau wakaf uang. Imam az Zuhri ( 124 H wafat ) ulama terkemuka waktu itu memperbolehkan wakaf dirham dan dinar untuk kepentingan pembangunan sarana dakwah, sosial dan pendidikan Islam.

Darel Azhar sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang berdiri sejak 5 Maret 1995 dibangun di atas tanah wakaf keluarga seluas 2000 m2 yang kemudian ketika memasuki usianya ke-23 tahun diikrarkan wakafnya seluas 2, 4 Ha ( 24 000 m2) secara de jure dan de facto oleh Pimpinan Pesantren Dr . KH. Ikhwan Hadiyyin, MM melalui KUA Kab Lebak sebagai legislator hukumnya. Tercatat 10 Ha lagi yang akan diwakafkan untuk kepentingan pendidikan Islam. Adapun tanah yang 2, 4 Ha sebagian besarnya sudah dipenuhi gedung-gedung bertingkat.

Ponpes Modern Darel Azhar Rangkasbitung berasaskan sintesa universita Al Azhar Kairo Mesir yang memiliki jutaan hektar wakaf dan mengembangkannya menjadi pondasi perekonomian. Al Azhar Kairo mampu membiayai seluruh operasional pendidikan ; puluhan ribu beasiswa untuk para mahasiswa dalam dan luar negeri, gaji dan insentif para dosen, bahkan membantu kebijakan fiskal negara Mesir. Karena itulah PM Darel Azhar Rangkasbitung yakin bahwa eksistensi pendidikan di pesantren ini akan terus berjalan walaupun estafeta kepemimpinan silih tumbuh dan berganti hingga ribuan tahun akan kekal dan abadi.

Tak hanya berhenti pada wakaf keagamaan, Darel Azhar Rangkasbitung juga membangun gedung-gedung dan unit usaha ekonomi sebagai implementasi panca jangkanya yaitu khizanatullah serta pembangunannya. Pada tahun 2019 ini Darel Azhar membangun Gedung Serba Guna di atas tanah wakaf seluas 1900 m2 yang mampu menampung 2500 orang untuk pertemuan dan asrama santri. Gedung Serba Guna ini juga akan digunakan sarana olah raga yang modern bagi siswa dan mahasiswa di sekitar komplek pendidikan. Hal ini sebagai wujud dari rencana pimpinan pondok dan sekaligus pimpinan Forum Kepala Sekolah dan Perguruan Tinggi ( FKS-PT) Komplek Pendidikan . Pembangunan ini dilakukan oleh pimpinan pesantren dan para gurunya sebagai rasa tanggung jawab menjalankan amanah perjuangan dan wakaf untuk umat Islam di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Marilah kita sebagai muslim berlomba-lomba mendermakan ( filantropis ) sebagian harta untuk wakaf umat Islam khususnya wakaf tunai demi pembangunan GSG Darel Azhar. Sebagaimana Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kesayangannya “Bairaha” setelah Umar bin Khattab berwakaf . Atau seperti Abu Bakar Asshidiq yang mewakafkan sebidang tanahnya di Mekah, Utsman Bin Affan yang membeli sumur dari yahudi yang kemudian diwakafkan hingga sekarang yang kita masih merasakan manfaatnya. Juga Mu’adz bin Jabbal yang mewakafkan rumahnya yang terkenal dengan “Dar al Anshor”. Itu semua sebagai bentuk kecintaan beribadah kepada Allah SWT sebagaimana tertulis dalam surat Ali ‘Imran ayat 92 :

(لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ)

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.

Sekretariat DA.