Category Archives: Mutiara Ilmu

KIAT MELAWAN HOAX DI ERA MILLENIAL

Kiat melawan hoax, oleh Dr. KH. Ikhwan Hadiyyin, MM –

Tak sedikit manusia yang kini disibukkan dengan berita hoax. Sesungguhnya fenomena tersebarnya isu-isu hoax di masyarakat merupakan penyakit yang bisa mengancam stabilitas masyarakat. Di masa sekarang, penyebaran isu telah menjadi tindakan yang terorganisir atau terkoordinir yang dibangun di atas perencanaan yang matang sesuai dengan tujuan-tujuan tertentu. Mulai dari yang menyebar melalui media-media sehingga tersebar dengan cepat sebagaimana nyala api pada kayu yang kering dan secepat cahaya kilat. Ia melesat melalui media-media sosial atau media-media komunikasi modern. Berita bohong sering kali hadir dan tersebar di media sosial, mulai dari facebook, WhatsApp, Tweeter dan media media masa lainnya.

Seringkali sebar dulu berita, kemudian barulah menyatakan  kalau salah “Anda yang tertuduh silahkan mengklarifikasi”. Bahkan sekelas ulama pun bisa difitnah dengan tuduhan keji, baik korupsi dana yayasan, berzina, dan lain sebagainya. Naudzubillahi min dzalik. Belum terbukti kebenarannya sudah dihabisi karakter baiknya. Ketahuilah bahwa Luhumul ulama’ masmuumah. Bahwa daging seorang ulama itu beracun. Kalimat ini pernah disampaikan Ibnu Asyakir untuk membela Imam Hasan Asy’ari, sekaligus memberikan nasehat pada umat Islam agar menghormati muruah atau marwah ulama dan tidak mencela ataupun menggibahnya. Bila menggibah sesama muslim saja di dalam Al Qur’an disebut sebagai orang yang memakan daging busuk yang mengandung penyakit, maka menggibah ulama dengan membicarakan aib bahkan membicarakannya dengan kabar yang tidak benar, dapat diistilahkan dengan memakan daging busuk juga beracun, bahkan meracuni dirinya sendiri.

 

Dalam surat alhujurat ayat 12 Allah telah berfirman:

يَاأَيُّهَا الّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أً يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيِّةً فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ (الحجرات : 12)

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari cari kesalahan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”  Al Hujurat  :12)

 

Isu-isu yang disebarkan pada waktu yang pas, dan ditanamkan di tanah yang subur serta pada kesempatan yang cocok untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan busuk dengan tujuan-tujuan yang kotor. Untuk membunuh karakter, bahkan sebagai sarana orang munafik dan kafir untuk mencela orang Islam yang baik dengan sebutan pelaku makar dan koruptor. Karenanya isu merupakan modal orang-orang munafiq agar menganggap orang Islam adalah buruk dan orang kafir adalah yang terbaik. Allah SWT berfirman tentang mereka:

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا (٦٠) مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلا (٦١(

 “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong atau fitnah di Madinah(dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetangamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat, dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya”. (Q.S Al-Ahzab : 60-61)

 

Penyebaran berita-berita tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu terlarang dalam syariat Islam, serta dibenci menurut tabi’at dan tradisi Islam. Sungguh betapa banyak penyebaran berita-berita palsu yang kosong dan hoax telah menimbulkan kemadhorotan yang begitu besar, dan melahirkan keburukan yang juga besar. Berita yang kita sebar atau kita share pasti akan dicatat oleh Roqib dan Atid

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ (القاف : 18)

“Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir .”(QS Qoof : 18)

Nabi kita Muhammad Shalallahu ’alaihi wasalam pernah bersabda:

كَفى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang telah berdosa jika ia menyampaikan seluruh yang ia dengar.”

Bahkan berita benarpun apabila orang yang kita bicarakan itu mendengarnya dan hal tersebut membuatnya menjadi marah, di dalam Islam juga sudah dilarang. Hal ini juga disebut dengan “Ghibah”. Rasulullah SAW pernah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟” قَالُوا اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ “ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ”

Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Wahai para sahabat, tahukah engkau apa itu ghibah?” Para sahabat berkata Allah dan Rasulnya lebih mengetahui. Kemudian Rasulullah SAW bersabda “Engkau menyebut-nyebut saudaramu, dimana apabila saudaramu itu mendengarkan apa yang kau sebut maka dia akan marah. Itulah Ghibah.” Kemudian para sahabat bertannya:

أَ فَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُوْلُ يَارَسُولَ اللهِ

Bagaimana seandainya jika memang yang saya sebut-sebut dan yang saya ceritakan itu benar benar terdapat pada saudara saya yang saya bicarakan?

Rasulullah bersabda:

إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah memfitnahnya. Dan ketahuilah bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.”

 

Islam sebagai agama yang sempurna dan universal mengatur bagi penganutnya apa-apa yang baik dari perkara dunia dan akhirat. Maka Islam sejatinya adalah pedoman hidup, dan salah satunya adalah bagaimana sikap seorang muslim ketika berhadapan dengan kabar burung atau fitnah. Maka dari itu, dengan penjelasan berikut yang berasal dari Al Qur’an Al Karim semoga dapat sedikit mengurangi kegaduhan tentang berita hoax. Adapun kiat melawan berita hoax tersebut adalah:

Yang Pertama, Hendaknya kita Check dan Recheck kabar tersebut dan tidak menyebarkannya sampai mendapatkan klarifikasi ihwal yang sebenarnya.

Allah SWT berfirman:

يَا أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإِ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu kabar berita, maka telitilah kebenarannya.” (Al Hujurat : 6)

Pada ayat di atas Allah SWT memberikan arahan bahwa ketika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka hendaklah kita mengecek kebenarannya.

 

Yang kedua, Jangan terburu-buru ikut menyebarkannya, tanyakan dahulu kepada para ahli tentang berita tersebut dan tungggu arahan mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat An Nisaa ayat 83:

 

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An Nisaa: 83)

 

Yang ketiga, Mendahulukan sikap husnuzhan kepada sesama muslim

لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِيْنٌ (النور : 12)

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An Nur: 12)

Yang keempat, Tutupilah aib sesama muslim dan jangan sebarkan tentangnya kecuali kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia mau menolong saudaranya.  (HR Muslim)

The Miracle Of KMI

Pada pelajaran ushul fiqh kelas 3 ada judul الميسور لا يسقط المعسور atau memiliki pengertiannya adalah *sesuatu yang mudah tidak meniadakan perkara yang susah lainnya*. Seperti sakit luka pada tangan tidak meniadakan wajib membasuh anggota tubuh lain ( muka, kaki, rambut dsb ). Judul kaedah / teori fiqih ini tidak akan mudah diterangkan jika tidak ada judul sebelumnya dalam 1 buku sistematis ( ushul fiqih ) yaitu ; ما لا يدرك كلّهُ لا يترك كلّه . Kecocokan dan kesinambungan dari satu judul ke judul berikutnya merupakan sebuah masterpiece sebuah buku ilmiah kemudian diajarkan dengan methode pengajaran yang tepat ( baca amaliyah tadris ) mampu menghasilkan pengajaran yang mencapai tujuan pendidikan sehingga terciptanya insan alim / faqih / muhaddist / mufassir dari pengajaran.

Lihatlah kitab *Durusullugoh* kelas 1 bagi pemula yang belum mampu berbahasa arab. Disini KH. Imam Zarkasyi memadukan materi pengajaran bahasa arab dengan methode *amaliyah tadris* tanpa terjemah atau menggunakan bahasa indonesia/ibu namun santri mampu mendalami kitab tersebut bahkan menggunakan bahasa arab dalam kesehariannya.

Apakah kitab durusullugoh itu memiliki karakter misteri? Jawabnya bukan misteri namun karakter kurikulum yang tepat dan matang. Perhatikan rentetan judulnya dimulai ism-ism kemudian perbedaan ism mudzakar dan muannats ( قلم – مدرسة ) setelah itu meningkat kepada ism-ism isyaroh yang bersifat mudzakar dan muannats juga ( هذا – هذه / ذالك – تلك ) dan selanjutnya kepada dhamir ( هو – هي – أنا – أنت dst ). Beliau memulai dengan ism ism seperti methode pengajaran dalam Alquran saat Nabi Adam dan Malaikat belajar :
(وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ)
[Surat Al-Baqarah 31]

Memulai dengan asma ( ism-ism ) bukan dengan fi’il ( kata kerja ).

Buku dan kurikulum mana yang lebih dahulu saat suatu lembaga pendidikan mulai melaksanakan proses pendidikan? Persoalan ini bagaikan telur dan ayam mana yang lebih dahulu. Namun KH. Imam Zarkasyi telah meramu itu dengan sedemikian lengkap dan komprehensif sehingga terciptanya KMI.

Anak kelas 5 KMI mempelajari kitab musthalahul hadits yang jika kita telisik pada kitabnya akan diketahui bahwa itu untuk perkuliahan syariah di fakultas hadits namun kenapa diberikan kepada santri ( yang belum kuliah ) ? Hasil penelusuran kami itu karena kelas 5 pasti akan menjadi pengurus baik dirayon, organisasi atau minimal pengurus konsulat. Maka harus diberikan *kemampuan jarh wa takdil* sebagai bekal seorang pengurus.

Fiqih wadhih merupakan kumpulan konsesus hukum fiqih yang simple seperti namanya. Santri KMI tidak membaca / mempelajari *taqrib dsb* begitu juga dalam materi aqidah dan ushul. Kecuali mereka sudah mencapai kematangan ( baca saat menjadi pengurus / dewasa ) baru membuka tabir luasnya pandangan ulama tentang produk fiqih dengan menggunakan kitab *Bidayatul Mujtahid*.

Tidak berhenti sampai disitu karena kita harus melirik hapalan tentang *Panca Jiwa* yang berbunyi *wawasan luas* yang dilanjutkan *kebebasan*. Yaitu bebas memilih tujuan hidup, bebas memilih madzhab fiqih, dan bebas-bebas lainnya setelah santri *menguasai* materi dari kelas 1 hingga 4 yang berarti sudah mempunyai *wawasan luas* barulah ia *bebas* memilih dengan wawasannya. Disini saat jelas kecocokan antara kitab yang diajar dengan methodenya bahkan nilai-nilai / filsafat pendidikan selaras dalam praktek kehidupan santri. Karena kurikulum bukan sekumpulan kertas namun seluruh *apa yang kau dengar, apa yang kau lihat, apa yang kau rasakan* itulah kurikulum.

KMI ku… Ibu Kandungku… our boarding school

Salam STITDA.

#A. Rifa’i Arif,  M. Pd. I

Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jum’at

 Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits yang membicarakan hal ini kami bawakan sebagian pada posting yang singkat ini. Semoga bermanfaat.

      Hadits pertama:

‎مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

     Hadits kedua:

‎مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan di hari Jum’at dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja [?] Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh sesuai tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.